Janji Pelangi Untuk Sunny

Hai hai,,

Hehe ini fanfiksi pertama aku yang aku publish. Semoga dapat bermanfaat untuk kalian semuanya yahh 🙂

Dont bash reader…

Ditunggu commentnya guys 🙂

 

Janji Pelangi Untuk Sunny

Di liriknya jam tangan biru yang melingkar di pergelangan tangannya. Entah sudah berapa lama Sunny melakukan hal itu berulang-ulang. Sunny sudah lelah menunggunya yang tak kunjung datang. Dilihatnya sekeliling. Sepi. Itulah yang ada dibenaknya sedari tadi. Sebenarnya Sunny ingin segera beranjak pergi dari taman ini, namun keinginannya untuk bertemu sahabatnya yang terakhir kali itu, membuat Sunny mengurungkan niatnya lagi.

 

“Sunny, Sunny….”

Ketika mendengar suara memanggilnya, Sunny langsung menoleh. Dilihatnya, Adam yang sudah berdiri di belakangnya. Dengan peluh menetes di sisi wajahnya, nafasnya pun memburu. Dengan sekali lihat, Sunny tahu Adam habis berlari.

“Maaf Sunny. Aku terlambat. Kau menunggu lama?” kata Adam pelan, mencoba menetralkan deru nafasnya.

“Cepatlah. Aku ingin pulang. lelah disini. Terabaikan,” sindir Sunny ketus.

Terlihat raut kecewa serta menyesal di wajah Adam karena sudah membuat Sunny menunggu. Memang dia yang salah. Akhir-akhir ini, Adam memang sibuk sekali dengan tugasnya yang menumpuk. Sampai tidak sempat untuk membalas pesan serta telfon masuk dari Sunny, sahabatnya sejak kecil.

“Sudah berapa lama kau menunggu?” tanya Adam berjalan mendekat ke arah Sunny. “Lama. Sampai tak terhitung saking lamanya,” balas Sunny malas.

“Maaf, aku ada urusan sedikit tadi,” kata Adam penuh rasa penyesalan.

“Aku tahu. Kau memang orang yang sibuk kan. Lebih baik, sebelum membuat janji, kau lihat dulu jadwalmu. Apakah sibuk atau tidak,” balas Sunny lagi.

“A, Aku….” Adam menggantungkan kata-katanya. Tidak tahu harus menjelaskannya dari mana. Tak ingin melihat Sunny lebih kecewa lagi.

 

Tidak ada kata-kata lain yang mereka ucapkan. Hanya ada suara angin menerpa pepohonan yang terdengar di taman itu. Sunny masih dengan kekesalannya, sementara Adam masih dengan rasa penyesalannya.

Sunny sudah sering seperti ini dengan Adam, bahkan sering juga terabaikan karena tugas-tugas Adam yang menumpuk. Adam memang anak yang jenius, jadi itulah alasan mengapa ia mendapatkan program pertukaran pelajar selama satu tahun di Inggris untuk semester ini dan itu juga akan membuat Adam harus meninggalkan Sunny. Merasa bersalah karena terlalu sering melupakan sahabatnya, Adam ingin bertemu Sunny untuk terakhir kalinya sebelum keberangkatannya besok pagi.

“Aku ingin memberimu ini,” kata Adam sembari memberikan kotak kecil pada Sunny.

“Aku terlambat karena ini, maaf,” lanjut Adam lagi. Sunny lalu menerimanya.

“Untukmu. Kau harus membukanya di Rumah,” balas Adam tersenyum lembut. Kali ini ia memberikan senyum terbaiknya, yang hanya selalu ia berikan untuk sahabat kecilnya.

 

Kristal bening perlahan turun dari kedua kelopak mata indah Sunny, penglihatannya mulai kabur dan ia memeluk lelaki dihadapannya ini dengan erat.

“Heii cengeng,” kata Adam menggoda. Sementara Sunny menunduk, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Adam. “Aku akan kembali kesini, hei bahkan ini hanya satu tahun,” balas Adam mengeratkan pelukannya pada bahu Sunny.

 

“Coba saja hujan,” kata Adam lembut, masih betah memeluk sahabatnya.

“Kenapa?”

“Bukankah kau suka pelangi?”

“Lalu?”

“Pelangi muncul setelah hujan.”

Sunny memutar bola matanya, “Aku tahu. Sebenarnya apa yang kau maksud?”

“Hanya ingin melihat pelangi berdua denganmu,” hening.

“Kalau begitu kau harus janji padaku,” kata Sunny tiba-tiba, melepaskan pelukannya begitu saja. “Ohh ayolah, Janji macam apa lagi yang kau ingingkan?” tanya Adam ragu, tahu  bahwa Sunny selalu menginginkan hal-hal yang ekstrim seperti panjat tebing bersama pada semester lalu.

 

“Heii, janji apa?” Adam mulai penasaran.

“Yah, kau harus janji, jika sudah kembali kesini, kau akan memperlihatkan sebuah pelangi padaku. Pelangi yang hanya milik kita, kau ingat?” jawab Sunny menyeringai.

Adam hanya diam, menyipitkan matanya. “Kau akan mendapatkannya jika hujan dan yah, kau tahu itu tempat yang jauh.”

“Jadi?”, tuntut Sunny menyilangkan kedua tangannya.

“Yah baiklah, aku tidak pernah mengabaikan janjiku padamu. Sekarang apa kau puas?”

“Sangat.”

Adam mengacungkan jari kelingkingnya dan disambut kegembiraan oleh Sunny, janji jari kelingking mereka dari kecil.

 

Mereka duduk di bawah pohon, di taman itu. Menikmati pemandangan yang biasa mereka lihat dari sana sewaktu kecil. Mereka memulai kembali masa-masa dulu. Masa sebelum Adam mempunyai banyak tugas dari kuliahnya, masa saat mereka main hujan-hujanan bersama, masa saat mereka melihat pelangi bersama untuk yang pertama kalinya, itu di umur mereka yang ke sepuluh tahun . Mengenang semua kenangan itu membuat Adam senang, namun membuat Sunny sedih. Sunny tidak akan pernah bisa seperti dulu lagi. Bersama-sama, setidaknya untuk satu tahun kedepan.

Hari semakin senja dan mereka bergegas pulang.

 

“Byee sayang.”

Sunny yang sedang membuka pintu pagarnya mengernyit seketika. “What?” Sunny berbalik melihat Adam yang sedang bersandar di pintu mobilnya. Tampan, sangat tampan.

“Itu salam perpisahan sayang.”

“Katakan itu pada pacarmu,” Sunny menyipitkan matanya.

“Kau kan istri masa depanku,” Adam menyeringai puas melihat Sunny yang diam tak berkutik.

“Kau harus pergi,” Sunny menunduk melihat sepatu sketch birunya, itu adalah satu-satunya objek yang sedang sangat ingin dilihat oleh Sunny, sementara ia meredam detak jantungnya yang menggila.

Adam menegakkan tubuhnya dan menarik tangan Sunny untuk kemudian dipeluknya erat dan hangat. “Well jangan pikirkan apapun dan belajar yang rajin disana,” balas Sunny memeluk leher Adam lebih erat. Ingin rasanya Sunny menangis, namun ia tak mau dikatakan cengeng untuk kedua kalinya dihari yang sama.

“Bagaimana aku tak memikirkan apapun jika kau selalu memonopoli pikiranku? Dan untuk kata Istri yang kuucapkan, aku serius sayang. Jangan dekat dengan lelaki manapun selama aku tidak ada.”

 

“Jangan seperti ini, kau selalu memberiku harapan yang tak akan pernah bisa ku capai,” air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. “Aku menyukaimu Sunny, apa kau tidak melihatnya? Aku berencana ingin menikah denganmu dan kau tidak bisa menolaknya.”

Sunny memutar bola matanya mendengar proktektifnya namun ia tersenyum lebar akhirnya, cinta sepihaknya selama ini terbalas. “Katakan sesuatu,” tuntut Adam melepaskan pelukannya dan terkejut melihat Sunny banjir air mata.

Sunny dengan kasar menghapusnya menggunakan punggung tangannya yang mana digantikan oleh Adam yang mengatakan bahwa Sunny akan menyakiti wajahnya nanti.

“Apa kau bersungguh-sungguh?” yang mana hanya dijawab oleh gumaman dan senyum lembut Adam.

“Kalau begitu katakan, kata-kata yang seorang laki-laki katakan pada seorang wanita, yahh kau tahu…? pipi Sunny sudah sangat memerah sekarang ini, ia sangat malu.

 

Adam menggenggam kedua telapak tangan Sunny, berlutut dan menatap manik mata perempuan itu. “Sunny Charlytha Veronica, aku ingin kau menjadi pendampingku di kemudian hari nanti, tinggal bersamaku sampai maut memisahkan dan menjaga anak-anakku tumbuh dewasa. Saling menyayangi dan mencintai. Aku menyukaimu sejak dulu, maaf baru mengatakannya sekarang, aku takut kau marah dan menjauhi dariku. Jadi, maukah kau menerimaku sebagai pacarmu?” Sunny meledak dalam tangisnya, ini sudah ketiga kalinya ia menangis dan air matanya tidak bisa diajak kompromi.

“Yah, aku mau,” Sunny mengangguk kuat, terlalu bersemangat.

Adam menegakkan tubuhnya, tersenyum lembut dan menghapus air mata di pipi Sunny. Tangan kanannya menelusuri wajah cantik Sunny dan berhenti di rahangnya, sementara tangan kirinya sudah menarik pinggang ramping Sunny terlebih dahulu nyaris menempel sempurna, mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibir cherry milik Sunny yang ranum dan menggoda.

END.

Nahh cukup sekian readers, semoga kalian suka 🙂

Standard